Selamat Datang Ke BLOG ACHTUNG...Semoga beroleh manfaat.

Ahad, 22 Mac 2015

KACA SENJA

KACA SENJA

Semakin hari dia semakin tua
Semakin dimamah usia
Dulu tubuh bak besi waja
Tapi kini ibarat kaca
Saat untuk bersama
... tidak mungkin selamanya

Seusia wajanya
Kita dibentuknya
Kita dicanainya
Kita diberusnya
Kita digasaknya
Berserta untaian airmata
Kasihnya...
Manjanya...
Rindunya...
Sepayahnya...
Seadanya...

Kini dia berusia kaca
Andainya...
Terhentak retak selamanya
Terhempas berderai selamanya...
Takkan bercantum seperti sedia kala...
erlantar sakit
Kita...
Hasil acuannya...
Sehabis baikkah bakti kita kepadanya
Sehebat diakah kita menjaga kebajikannya
Sehebat diakah kita menakluki hatinya
Sehebat diakahkita berkorban harta dan masa untuknya
Sehebat diakah kita

Atau kita menjadi sang perobek hatinya
Atau menjadikannya pembantu rumah kita
Atau menjadikannya tetamu yang tidak diundang dan tidak disenangi
Atau kita manjadi penggali telaga air matanya...
Atau pencuri waktu ibadahnya pada usia senjanya...

Kitakah itu...

Sang senja pasti berlabuh jua
Saatnya sahaja kita takkan terjangka
Waktu tersisa
Kita jadilah anak yang paling berbakti kepadanya
Demi kebahagiaan kita dan dia di Sana..
Saat menghadapNya...

20:26/21 Mac/Mersing/Surau Sri Lalang
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Aku tuliskan bait kata-kata ini saat mengenangkan ibu mertuaku yang terlantar sakit. Sajak ibu. Pada masa yang sama aku terkenangkan bagaimana sibuknya sang anak-anak dengan diari harian yang tersendiri. Meskipun beliau diziarahi, dilawati, dihantar untuk rawatan, namun aku terkenangkan bagaimana beliau menempuh hari-hari usia emasnya. Bagaimana perasaannya mengisi hari-hari tersisa tanpa suami tersayang yang telah lama pergi. Pengorbanannya dahulu adakah berbalas.

AWAS BICARA

Bila berbicara
Banyak caranya
Banyak kaedahnya
Banyak kesannya
Banyak faedahnya
Banyak bahananya
Banyak dosanya
Banyak pahalanya

Bicara mulut
Bicara mata
Bicara hati
Bicara akal
Bicara anggota

Kesemua bicara
Ada kesannya
Ada baik ada buruknya
Bergantung kepada
Apa penyampaiannya

Apapun wadah bicaranya
Ternilai pada isi bicara
Yang terisi pahala
Mahupun berisi dosa
Kesemuanya
Terakam kemas pada Sang Pencipta
Maha Mendengar segala
Maha mengetahui segala

Bicara penuh pahala
Indah sekali balasannya

Bicara penuh dosa
Perlu digeruni ancamannya

Yang mana bicara kita
Akal dan hati mencorakkannya
Nafsu gelora mencemarkannya

Bicara
Biar waspada

Bicara
Biar kenal batasnya
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Sajak Awas Bicara aku nukilkan saat merasa sangat marah dengan viral Aisyah Tajuddin yang memperlekehkan hukum Allah iaitu Hudud. Beliau sama sekali tidak layak untuk melemparkan kata-kata seumpama itu atas apa jua alasan. Sama ada disuruh atau kerana makan gaji, pokoknya ia terkeluar dari mulutnya berserta kesungguhan bicara pada lenggok dan memek mukanya. 

Kesal dan marah pada tindakannya hanya mampu terluah pada sajak Awas Bicara. Buat masa ini itulah dulu luahan yang ada... banyak lagi... tapi pedas bahasa. Lain pula jadinya. Pada Aisyah Tajudin, ingatlah, kemaafan yang anda pinta tak selesaikan masalah yang ada. Bertaubatlah selagi masa berbaki. Kematian datang bila-bila. Bimbang tak cium bau Syurga. Pada yang marah, jangan memaki mencaci. Cacian itu juga ada balasan buat kita. Awas bicara...
------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------